Pembangunan Sektor Peternakan pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani peternak dalam rangka meningkatkan populasi maupun produksi ternak dan hasil-hasilnya serta meningkatkan konsumsi potensi hewani di antaranya daging, telur dan susu yang banyak di konsumsi masyarakat dengan tujuan untuk mencukupi permintaan dalam negeri guna menuju swasembada protein. Jenis – jenis ternak yang saat ini di usahakan di Sumba Timur antara lain: Sapi, Kerbau, Kuda ,Kambing/Domba dan Babi. Selain ternak besar masyarakat juga memelihara ternak kecil seperti unggas yaitu Ayam ras, Ayam buras dan itik. Pada Tahun 2013, jumlah populasi ternak sapi potong mengalami penurunan  sebesar 39.503 ekor dari tahun sebelumnya yang mencapai jumlah sebesar 56.276 ekor. Jumlah pemotongan sapi pertahun tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 677 ekor dengan laju pertumbuhan populasi sapi sebesar 15 %.

Selain ternak sapi yang mengalami penurunan populasi, beberapa ternak lainnya juga cenderung mengalami penurunan populasi, diantaranya adalah ternak kambing yang pada tahun 2012 populasinya sebesar 62.907 ekor menurun menjadi 56.167 ekor ditahun 2013, populasi ternak babi ditahun 2012 sebesar 140.071 ekor menurun menjadi 8.263 ekor ditahun 2013, kemudian populasi ternak kerbau ditahun 2012 sebesar 38.147 ekor menurun menjadi 35.648 ekor ditahun 2013, populasi ternak kuda ditahun 2012 sebesar 31.486 ekor menurun menjadi 27.831 ekor ditahun 2013 dan populasi ternak ayam buras ditahun 2012 sebesar 712.625 ekor menurun menjadi 624.751 ekor ditahun 2013. Sementara untuk sarana dan prasarana seperti Rumah Potong Hewan (RPH) ada 3 unit yang menyebar di Kabupaten Sumba Timur.

Sebagaimana diketahui bahwa ternak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Sumba Timur disamping memiliki nilai sosial budaya juga memiliki nilai ekonomis sebagai salah satu sumber pendapatan peternak sekaligus sekaligus sumber pendapatan daerah melalui perdagangan antar pulau. Akan tetapi akhir-akhir ini populasi ternak besar cenderung menurun baik karena perdagangan antar pulau, maupun urusan sosial budaya antar daerah dalam pulau Sumba serta terjadinya kekurangan pakan pada saat musim kemarau akibat degradasi lingkungan.