• Karnaval Agustus 2015_1
  • Karnaval Agustus 2015_2
  • Karnaval Agustus 2015_3
  • Karnaval Agustus 2015_4
  • Karnaval Agustus 2015_5
  • Karnaval Agustus 2015_6
  • Karnaval Agustus 2015_7
  • Karnaval Agustus 2015_8
  • Karnaval Agustus 2015_9
1 2 3 4
Login Form



Pertanian

PERTANIAN

Pembangunan sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan, serta pertambangan dan energi  di Kabupaten Sumba Timur merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam struktur perekonomian di Kabupaten Sumba Timur. 
Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling vital, oleh karena itu kecukupan pangan bagi kebutuhan penduduk harus senantiasa tersedia terkait dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga mengakibatkan semakin tingginya permintaan akan bahan makanan. Jenis tanaman pangan yang di usahakan di Sumba Timur adalah padi, jagung, kedelai, singkong dan hasil umbi-umbian.

Selengkapnya...

 

Perkebunan

PERKEBUNAN

Sub sektor perkebunan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja, karena hasil ini merupakan salah satu sumbangan kekayaan alami yang dapat di perbaharui. Hasil ini juga sebagai bahan baku untuk bahan industri pengolahan dan dapat berperan sebagai pelestarian lingkungan hidup. Di Sumba Timur kegiatan sub sektor perkebunan yang meliputi perkebunan besar dan perkebunan rakyat, terhitung sampai akhir 2018 masih kecil kontribusinya terhadap sektor pertanian. Walaupun demikian hasil dari sub sektor ini di harapkan dapat menunjang pendapatan asli daerah Kabupaten Sumba Timur.


Perkembangan produksi komoditi - komoditi perkebunan di Kabupaten Sumba timur yaitu Kopi dengan Luas areal pada tahun 2018 meningkat menjadi 1.135,0 Ha dari tahun 2017 yang hanya seluas 1.063.0 Ha, dengan jumlah produksi yang ikut meningkat sebesar 260 Ton dari tahun sebelumnya. Luas areal kakao juga mengalami peningkatan dari 697,00 Ha ditahun 2017 meningkat menjadi 738,00 Ha ditahun 2018 dengan peningkatan jumlah produksi sebesar 41,20 Ton dari 38,00 Ton di tahun 2017. Luas areal tembakau dari 72,00 Ha ditahun 2017 tidak mengalami perubahan tetap pada angka 72,00 Ha ditahun 2018, akan tetapi jumlah produksinya mengalami penurunan dari 25,00 Ton ditahun 2017 menurun menjadi 24,80 Ton ditahun 2018. Demikianpun halnya dengan kelapa dalam yang mengalami peningkatan luas areal tetapi menurun jumlah produksinya yaitu luas areal sebesar 4.331,00 ha ditahun 2017 meningkat menjadi 4.622,00 ha ditahun 2018, dan jumlah  produksi dari 1.367,00 Ton ditahun 2017 dan  1.380,00 Ton ditahun 2018. Luas areal cengkeh mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 270 Ha pada tahun 2017 menjadi 480,00 Ha pada tahun 2018 dan mengalami kenaikan jumlah produksi dari 32.00 Ton ditahun 2017 menjadi 32,40 Ton ditahun 2018. Untuk jambu mete, luas arealnya juga tidak mengalami peningkatan yang berarti dari 9.464,00 Ha ditahun 2017 meningkat menjadi 9.664,00 ha ditahun 2018 dengan peningkatan jumlah produksi sebesar 3.414,00 ton.

 

Kehutanan

 

Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dari sisi ekonomi maupun ekologis. Kontribusi sub sector kehutanan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Sumba Timur masih tergolong kecil bila di bandingkan dengan sub sector lainnya pada sector pertanian. Walaupun demikian, mengingat pentingnya keseimbangan ekologis, maka pengembangan dan pemeliharaan konservasi sumber daya alam dan lingkungan merupakan hal yang tak terhindarkan untuk dikembangkan mengingat saat ini isu pemanasan global dan isu lingkungan tidak saja menjadi isu nasional tetapi menjadi isu internasional. Di samping itu, kondisi lingkungan alam Sumba Timur membutuhkan penanganan yang bersifat segera mengingat saat ini cenderung menurunnya degradasi lingkungan. Jumlah Lahan Hutan  di Kabupaten Sumba Timur terdiri atas, Hutan Produksi tetap yang menurun luasnya menjadi 20.929,59 Ha dari luas tahun sebelumnya. Hutan Produksi terbatas meningkat luasnya dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 15.231,1 Ha ditahun 2012 menjadi 84.842,94 Ha ditahun 2013. Begitupun halnya dengan hutan yang dapat di konversi, dari 58.422,58 Ha ditahun 2012 meningkat menjadi 65.119,30 Ha ditahun 2013. Realisasi luas lahan reboisasi pada tahun 2013 sesuai dengan yang ditargetkan yaitu 25 Ha. Pembuatan lahan penghijauan baru sebesar 75 Ha ditahun 2013 dengan pemeliharaan sebesar 100 Ha. Untuk Luas Land Use (penggunaan lahan lainnya diluar hutan negara) tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu 1.120 Ha.

Hasil hutan sebagai salah satu alternatif pendapatan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur cenderung menurun, hal ini sesuai dengan potensi hasil hutan yang cenderung terbatas atau karena ketatnya pengawasan hutan. Dari beberapa potensi hasil hutan, hanya beberapa saja yang masih menghasilkan produksi. Pada tahun 2013 ada kayu gergajian dengan jumlah produksi sebesar 29,56 M3, kemudian kemiri isi yang menurun drastis jumlah produksinya yaitu dari 36.160 kg menurun menjadi 6.100 ditahun 2013. Demikianpun halnya dengan asam yang menurun produksinya dari 105.665 kg ditahun 2012 menurun menjadi 4.200 kg di tahun 2013. Hasil hutan lain seperti kutu lak dan delingga juga menghilang yang mengakibatkan berkurangnya salah satu sumber pendapatan masyarakat.

Kebakaran hutan merupakan peristiwa dimana hutan yang digologkan sebagai ekologi alamiah mengalami perubahan bentuk yang disebabkan oleh aktifitas pembakaran secara besar-besaran. Pada dasarnya, peristiwa ini memberi dampak negatif maupun positif. Namun, jika dicermati, dampak negatif kebakaran hutan jauh lebih mendominasi ketimbang dampak positifnya. Luas arel hutan yang terbakar di Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2013 semakin luas hingga mencapai 1.305 Ha dari tahun sebelumnya yang hanya 812 Ha dengan 7 lokasi kebakaran. Disamping itu kasus pencurian kayupun semakin meningkat, dari 3 kasus pada tahun sebelumnya meningkat menjadi 5 kasus di tahun 2013, dengan volume kayu yang dicuri sebesar 12,08 M3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Dinas Kehutanan Kab.Sumba Timur

 

Kelautan Dan Perikanan

Sub Sektor Perikanan juga merupakan sub sector penyedia lapangan kerja dan kesempatan berusaha dalam rangka pemantapan program pengentasan kemiskinan. Untuk itu Pemerintah NTT, khusus Sumba Timur mencanangkan Program Gerakan Masuk Laut (Gemala) yang merupakan implementasi program empat pilar bidang perikanan yang kegiatan utamanya pengembangan usaha budidaya laut, budidaya tambak dan penangkapan yang meliputi peningkatan prasarana perikanan, teknologi pra dan pasca panen, peningkatan kelembagaan perikanan serta memajukan wisata bahari.

 

Selengkapnya...

 

Perternakan

Sebagaimana diketahui bahwa ternak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Sumba Timur disamping memiliki nilai sosial budaya juga memiliki nilai ekonomis sebagai salah satu sumber pendapatan peternak sekaligus sekaligus sumber pendapatan daerah melalui perdagangan antar pulau. Akan tetapi akhir-akhir ini populasi ternak besar cenderung menurun baik karena perdagangan antar pulau, maupun urusan sosial budaya antar daerah dalam pulau Sumba serta terjadinya kekurangan pakan pada saat musim kemarau akibat degradasi lingkungan.

Pembangunan peternakan di Nusa Tenggara Timur khususnya kabupaten Sumba Timur dihadapkan pada berbagai masalah dasar yang membutuhkan penanganan secara bertahap. Usaha meningkatkan produksi peternakan agar pendapatan dapat meningkat dalam rangka memperbaiki kesejahteraan petani peternak secara nyata dan stabil, tidak saja berhadapan dengan masalah teknis tetapi juga masalah social ekonomi dan pengelolaan pembangunan itu sendiri. Salah satu masalah dan tantangan yang masih akan dihadapi adalah aspek pengembangan dan penggunaan sarana produksi. Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi terpenting dari pembudidayaan ternak dalam rangka mengembangkan usaha peternakan. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa melalui perbenihan dan perbibitan yang tangguh akan berdampak pada terwujudnya usaha budidaya yang berdaya saing dan produktif.

Dengan adanya usaha perbaikan bibit ternak, maka upaya untuk meningkatkan populasi, produksi dan nilai tambah produk-produk peternakan akan semakin terbuka. Sebab disadari bahwa pembangunan peternakan memiliki nilai yang penting dalam ketahanan pangan dalam upaya mencerdaskan Sumber Daya Manusia. Fungsi protein hewani sangat menentukan dalam mencerdaskan manusia, karena kandungan asam aminonya tidak tergantikan sehingga dapat dikatakan bahwa protein hewani  mampu menjadi agen pembangunan.

Produksi daging saat ini dalam memenuhi kebutuhan konsumsi daging secara nasional diperoleh antara lain dari daging sapi, yang mensuplai terhadap kebutuhan daging sebesar 23%.

Dalam rangka mendukung pembangunan pertanian sub sektor peternakan khususnya di Kabupaten Sumba Timur, Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Kabupaten terus mendukung melalui alokasi anggaran setiap tahunnya baik untuk pengadaan ternak maupun pembangunan infrastruktur lahan dan air di padang pengembalaan.

Jenis – jenis ternak yang saat ini di usahakan di Sumba Timur antara lain: Sapi, Kerbau, Kuda, Kambing Domba dan Babi. Selain ternak besar masyarakat juga memelihara ternak kecil seperti unggas yaitu Ayam Kampung, Ayam Pedaging dan Ayam Petelur

Seiring dengan kegiatan tersebut pembangunan infrastruktur lahan dan air sebagai sumber pakan ternak dan sumber air minum di padang pengembalaan terus ditingkatkan. Sesuai hasil pendataan terakhir Tahun 2018, Pada Tahun 2018, Jumlah Populasi Ternak Besar Seperti Kuda Mencapai Jumlah sebesar 32.983 ekor, sapi Mencapai Jumlah 51.811 dan Kerbau Mencapai Jumlah 39.737, dan Populasi Ternak Besar tersebut mengalami Kenaikan dari populasi Tahun Sebelumnya pada tahun 2017 Populasi kuda Hanya berjumlah 31.729 sapi Berjumlah 49.494 dan Kerbau Berjumlah 38230 dapat dilihat pada tabel populasi ternak berikut ini

Populasi Ternak Menurut Kecamatan dan Jenis Ternak, 2018

Population of Livestock by District and Kinds of Livestock, 2018

 

 

Kecamatan
District
(1)

 

Sapi Perah

 

 

Sapi Potong

Beef Cattle

Kerbau

Buffalo

 

 

 

Kuda
Horse

Kambing / Domba *)
Goat /sheep

Babi *)
Pig

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

01. Lewa

 

2861

1229

1537

1683

6486

02. Nggaha Ori Angu

 

2725

1716

1575

1218

6650

03. Lewa Tidahu

 

971

646

371

979

2783

04. Katala Hamu Lingu

 

1060

671

591

640

1689

05. Tabundung

 

1426

2937

1335

2559

5737

06. Pinu Pahar

 

1561

2474

1581

2994

4593

07. Paberiwai

 

1200

1947

463

1890

5089

08. Karera

 

4313

6986

1862

1637

7946

09. Matawai La Pawu

 

718

2406

684

3292

2973

10. Kahaungu Eti

 

2690

1251

1292

2775

6657

11. Mahu

 

568

2119

373

322

1960

12. Ngadu Ngala

 

356

1610

310

1124

5110

13. Pahunga Lodu

 

4212

2356

1635

2777

11832

14. Wula Waijelu

 

435

1301

267

551

6727

15. Rindi

 

7805

4465

3846

2545

6009

16. Umalulu

 

1369

481

902

7936

7524

17. Pandawai

 

9189

1984

4985

7012

5528

18. Kambata Mapambuhang

 

757

910

486

1526

3137

19. Kota Waingapu

 

1831

811

3287

4108

6365

20. Kambera

 

1668

241

930

3448

12030

21. Haharu

 

2402

482

1653

3060

3707

22. Kanatang

 

1694

714

3018

3776

4167

SUMBA TIMUR

 

51811

39737

32983

57852

124699

Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur  2020

Sumba Timur Dalam Angka 2019

 

Populasi Ternak Besar di Kabupaten Sumba Timur menurut Jenis dan Perkembangannya, 2011-2018

Population of Large Livestock by Kinds and Trend, 2011-2018

Tahun

Years

Sapi / Cow

Kuda / Horse

Kerbau / Buffalo

Jumlah

Perkembangan

Jumlah

Perkembangan

Jumlah

Perkembangan

(ekor)

(%)

(ekor)

(%)

(ekor)

(%)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

2011

46497

8,91

34344

-5,11

32000

0,48

2012

49920

7,36

32667

-4,88

37295

16,55

2013

47902

-4.04

31757

-2.79

36541

-2.02

2014

50435

5,29

29336

-7,62

34469

-5,67

2015

50700

0,53

31700

8,06

39779

15,41

2016

36599

-27,81

27042

-14,69

31856

-19,92

2017

49494

35,23

31729

17,33

38230

20,01

2018

51811

4,75

32983

3,95

39737

3,97

Sumber : Dinas Peternakan Sumba Timur 2020

Sumba Timur Dalam Angka 2019

 

JumlahTernak yang Dipotong Menurut Jenis Ternak, 2018

Number of Livestock Slaughtered in Slaughtering House by Kinds, 2018

Triwulan

Kerbau

Buffalo

Sapi

Cow

Kambing

Goat

Babi

Pig

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

I

-

198

279

90

II

7

190

170

91

III

1

192

182

92

IV

-

197

145

92

JUMLAH

8

777

776

365

Sumber : Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur 2020

Sumba Timur Dalam Angka 2019

Sistem pemeliharaan ternak umumnya masih dilaksanakan secara ekstensif yang mengandalkan sumber pakan dari rumput di padang penggembalaaan alam dengan biaya yang relatif murah dan hemat  tenaga. Disamping itu petani juga mengusahakan penggemukan sapi (paronisasi) disekitar kota dan daerah aliran sungai untuk diantarpulaukan.

Sub sektor peternakan merupakan penyumbang protein hewani untuk kebutuhan masyarakat lokal maupun untuk kebutuhan masyarakat di luar Sumba Timur.

PERTERNAKAN

 

Pertambangan , Energi & Lingkungan Hidup

Pertambangan dan Energi

Pertambangan

Sektor pertambangan memegang peranan yang cukup penting dalam mendukung sektor-sektor lainnya seperti sektor industri. Beberapa kawasan dan kegiatan pertambangan yang ada di Kabupaten Sumba Timur memiliki potensi jenis pertambangan yang hampir sama, dari jenis pertambangan dan penggalian sebagian besar didominasi oleh komoditas bernilai rendah yakni batu karang, sirtu, pasir, batu pecah, batu gelondongan,batu kapur, batu warna, tanah urug, batu gamping, pasir kali, pasir laut untuk kebutuhan konstruksi lokal, dan sebagian kecil menyimpan kekayaan pertambangan lainnya berupa Andesit, Granit, batu setengah permata, Feldspar, Tembaga, Granodiorit, Timah Hitam, Emas. Untuk saat ini baru Tambang Emas yang pernah di eksplorasi.  Peran sektor pertambangan di Kabupaten Sumba Timur masih belum menonjol hal ini terjadi karena data potensi hasil tambang masih terbatas. Hasil tambang masih terbatas pada hasil tambang galian golongan C yang penyebarannya cukup merata di wilayah Kabupaten Sumba Timur dan dikelola oleh masyarakat melalui pertambangan rakyat dan sedikit kegiatan usaha bahan galian golongan B yang dikelola oleh pengusaha lokal. Penggalian bahan galian golongan C yang dilakukan oleh masyarakat jika tidak terkoordinir secara baik dapat menimbulkan resiko yang cukup besar mengingat keterbatasan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan. Hal ini terbukti dengan begitu menyebarnya usaha pertambangan galian golongan C berupa batu dan pasir sungai/laut tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan keselamatan fasilitas-fasilitas umum yang berada pada daerah aliran sungai seperti jembatan, bendungan, gedung dan sebagainya.

POTENSI BAHAN TAMBANG MINERAL DI KABUPATEN SUMBA TIMUR

Sumber daya mineral sebagai salah satu sumber daya alam, merupakan sumber yang sangat penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Dalam skala global, mineral – khususnya penghasil energi utama; bahkan berperan strategis dalam menentukan peta perpolitikan dunia. Sementara mineral dalam bentuk logam mulia juga memiliki posisi penting dalam perekonomian dunia. Berikut adalah tabel potensi bahan tambang mineral di Kabupaten Sumba Timur dari hasil penelitian tahun 2008.
Untuk mengetahui potensi tersebut selengkapnya dapat di download disini

Energi

Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terus berupaya untuk menggandeng investor agar sumber energi tersebut dapat dimanfaatkan. Upaya tersebut telah berhasil dengan ditandatanganinya kerjasama dengan investor asing tahun 2009 yang difasilitasi oleh PT PLN dan akan membangun energi listrik tenaga matahari dengan kapasitas 3 MW. Sampai dengan tahun 2013 masih terdapat wilayah kecamatan khususnya ibukota kecamatan yang belum terlayani jaringan listrik PLN seperti Kecamatan Pinu Pahar, Kecamatan Mahu, Kecamatan Kambata Mappambuhang. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik pada wilayah tersebut, maka pemerintah Kabupaten Sumba Timur menempuh kebijakan pengembangan Listrik Diesel Masuk Kampung yang dioperasionalkan oleh masyarakat, di samping itu terdapat PLTS.

Potensi alam berupa air terjun, sinar matahari serta tenaga angin sangat potensial untuk dikembangkan sebagai energi terbarukan dan sampai dengan saat ini potensi daerah tersebut diminati oleh investor untuk dikembangkan. Diharapkan pada tahun yang akan datang Sumba Timur bebas dari energi fosil dan memanfaatkan energi baru terbarukan sebagai sumber energi listrik.

Berikut ini adalah data mengenai energi baru terbarukan yang digunakan sebagai sumber listrik di Kabupaten Sumba Timur.

Potensi alam berupa air terjun, sinar matahari serta tenaga angin sangat potensial untuk dikembangkan sebagai energi, akan tetapi sampai dengan saat ini potensi daerah tersebut dikembang. Di harapkan potensi ini akan dikembangkan mengingat Propinsi Nusa Tenggara Timur sudah ditetapkan oleh PLN sebagai daerah bebas listrik tenaga diesel mengingat potensi alam yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai energi listrik.

Berikut ini adalah data tentang banyaknya energi yang Dibangkitkan oleh PLN dan Penggunaannya Tahun 2010 – 2013.

Total jumlah pelanggan listrik pada tahun 2012 sebanyak sebanyak 19.191 Pelanggan, meningkat di bandingkan pada tahun 2011 sebanyak 15.966 pelanggan. Jumlah pelanggan listrik terbanyak adalah di Kecamatan Kota Waingapu dengan jumlah pelanggan 13.789 pelanggan, diikuti oleh Kecamatan Umalulu sebanyak  1.530 pelanggan dan Kecamatan Lewa sebanyak 929 pelanggan. Untuk jumlah pelanggan listrik terendah terdapat di kecamatan Paberiwai dengan jumlah pelanggan sebanyak 88 pelanggan dan tidak mempunyai pelanggan listrik terdapat di Kecamatan Lewa Tidahu dan Katala Hamu Lingu. Pada akhir Desember tahun 2013, tercatat hampir sebagian besar masyarakat pelanggan listrik di Kabupaten Sumba Timur telah memanfaatkan listrik prabayar. Berikut adalah data mengenai jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2008 - 2012.

Lingkungan Hidup

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dalam hal pemeliharaan lingkungan hidup, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terus meningkatkan perlindungan lingkungan terhadap produksi  sampah/timbunan sampah yang ada. Produksi sampah/timbunan sampah yang paling banyak terdapat di Kecamatan Kota Waingapu dan kecamatan Kambera yang berupa sampah organik dan non organik dengan timbunan sampah 120 m3 perhari dan yang diangkut ke tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebanyak 40 m3 perhari. Dari data tersebut menunjukan bahwa timbunan sampah yang tidak terangkut setiap hari sebanyak 80 m3, keadaan ini perlu dicarikan solusi penyelesaiannya mengingat tidak adanya perimbangan antara produksi sampah per hari dengan kemampuan angkut. Sejak tahun 2012 telah dibangun TPA di Laindeha dengan dana APBN sebagai pusat penanganan sampah di Kawasan Perkotaan Kota Waingapu dan sekitarnya. Untuk menjawab model pengelolaan sampah tersebut, perlu dipikirkan adanya UPTD sehingga model pengelolaannya lebih efisien dan efektif.

Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dalam pengembangan ke depan perlu pengelolaan sampah yang lebih baik, terutama pengelolaan TPA agar lebih efisien, efektif, da berwawasan lingkungan. Dari aspek lingkungan, yang perlu mendapat perhatian adalah masalah bau dan pencemaran. Berkaitan dengan kondisi lingkungan pemukiman, sampai saat ini cakupan layanan sanitasi di Sumba Timur baru mencapai 14 % dan masih jauh dari target, sementara Mdgis telah menargetkan bahwa tahun 2015 cakupan layanan air bersih maupun sanitasi harus mencapai 80 % untuk perkotaan dan 60 % untuk perdesaan.


Adanya gerakan Waingapu menuju Hijau dan Bersih atau Waingapu Go Green and Clean (WGC) mulai mengubah wajah Kota Waingapu secara umum. Penumpukan sampah sudah jarang ditemukan dengan adanya partisipasi dari masyarakat. Partisipasi masyarakat ditandai dengan adanya Aksi Jumat Bersih dan peletakan sampah pada karung di depan rumah yang kemudian diangkut oleh operator sepeda motor sampah Kelurahan untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Hal ini tentunya akan mengurangi tugas pemerintah sekaligus memberikan pemahaman bahwa penanganan masalah persampahan bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi sudah menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat penghuni kota Waingapu dan sekitarnya. Tentunya diharapkan agar gerakan Waingapu Go Green and Clean (WGC) akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya agar Kota Waingapu menjadi wilayah yang hijau dan bebas dari sampah serta menjadi teladan bagi kota-kota lainnya di Provinsi NTT.

Tata Ruang dan Pertanahan

Tata Ruang

Rencana Tata Ruang Wilayah adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang wilayah Nasional, ruang wilayah Propinsi dan ruang wilayah Kabupaten, yang mencakup kawasan-kawasan perkotaan, kawasan perdesaan dan kawasan strategis.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumba Timur telah disusun pada tahun 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2010. Implementasi RTRW dapat ditujukan melalui komitmen dalam penyusunan dokumen-dokumen perencanaan daerah lainnya, kajian pemberian rekomendasi pengendalian dan pemanfaatan ruang, penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi seperti pemanfaatan ruang oleh PT. Ade Agro Industri, PT. Sinar Fajar dan penataan ruang kawasan pariwisata Pindu Hurani, Bangga Watu dan Praibakul. Untuk menjamin ketaatan RTRW, RDRTK Kawasan Perkotaan Kota Waingapu, Rencana Induk Kebakaran/RTBL, Rencana Strategis Penataan Ruang dan Penataan Bagian Wilayah Perkotaan maupun Master Plan Agropolitan dan Perencanaan Teknis Tata Ruang lainnya pada beberapa SKPD sangat diharapkan supaya semua program/kegiatan harus duduk dan mengacu pada tata ruang yang ada dengan arah pemanfaatan ruang sesuai peruntukannya yang telah ditetapkan dalam Perda RTRW Kabupaten Sumba Timur Nomor 12 Tahun 2010.

Berdasarkan hasil analisis tentang struktur ruang wilayah, Kabupaten Sumba Timur terbagi menjadi beberapa tingkatan orde perkotaan. Tingkat orde perkotaan tersebut terbentuk oleh perkembangan dan pertumbuhan perkotaan itu sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : kondisi fisiografis wilayah, kependukan, kelengkapan fasilitas, kelengkapan infrastruktur wilayah, interaksi social ekonomi antar kawasan dan aksesbilitas.

Seiring perkembangan wilayah perkotaan di Kabupaten Sumba Timur, berdasarkan kajian perkotaannya pada saat sekarang maka yang akan datang direncanakan dengan mengacu pada tata ruang yang ada

Untuk mendukung terbentuknya struktur ruang yang ideal dalam mendukung perkembangan di wilayah Kabupaten Sumba Timur maka diwujudkan dengan penentuan pusat-pusat pengembangan dan wilayah pendukungnya berdasarkan orde/hierarkinya. Dalam lingkup wilayah kabupaten terdiri atas kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan, maka perlu dikembangkan juga di kawasan perdesaan pada setiap kecamatan, sebagai upaya untuk mempercepat perkembangan wilayah perdesaan. Salah satu bentuk pengembangan wilayah perdesaan dapat di tempuh dengan penentuan desa-desa pusat pertumbuhan.

Sistem perkotaan secara umum terdiri atas PKN (Pusat Kegiatan Nasional), PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), dan PKL (Pusat Kegiatan Lokal). Berdasarkan kriteria di atas maka sistem perkotaan di Kabupaten Sumba Timur dikaitkan dengan rencana tata ruang wilayah nasional : Waingapu ditetapkan dalam lingkup PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), sehingga perkotaan yang berfungsi sebagai pusat Sistem Perwilayahan termasuk PKL-1 (primer), meliputi: Lewa, Karera, Haharu, dan Umalulu, kemudian perkotaan yang berfungsi sebagai wilayah pendukung termasuk PKL-2 (sekunder). berdasarkan kecenderungan perkembangan kegiatan ekonomi dan investasi yang ada diproyeksikan bahwa ada pergeseran dalam sistem perkotaan di Kabupaten Sumba Timur yaitu : Kecamatan Kota Waingapu diprediksikan menjadi PKN. Dengan sistem perwilayahan tersebut, perhatian terhadap Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada lokasi Mondu menjadi salah satu alternatif terciptanya sumber daya alam yang mendukung pembangunan pada berbagai sektor.

Sesuai dengan penetapan orde perkotaan/hierarki perkotaan untuk wilayah Kabupaten Sumba Timur, serta konsep dan strategi pengembangan wilayah pada bab sebelumnya, maka sistem perkotaan di Kabupaten Sumba Timur direncanakan menjadi   5 Sistem Perwilayahan yaitu : Sitem Perwilayahan Waingapu, Sistem Perwilayahan Lewa, Sistem Perwilayahan Karera, Sistem Perwilayahan Haharu, dan Sistem Perwilayahan Umalulu.

Pertanahan

Berdasarkan data yang di peroleh dari Kantor Pertanahan Kabupaten Sumba Timur,  Pada tahun 2013, Jumlah tanah yang bersertifikat hak milik sebanyak 1.546 buah, Hak Guna Usaha sebanyak 2 buah, Hak Pakai sebesar 46 Buah, sedangkan untuk untuk luas tanah yang bersertifikat  hak milik sebesar 907 Ha, Hak Guna Usaha sebesar 4.058 Ha dan hak pakai sebesar 49 Ha.