Urusan Wajib Pendidikan

Kualitas pendidikan masyarakat merupakan faktor penting dalam percepatan pembangunan daerah. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, maka sumber daya manusia yang dimiliki semakin berkualitas. Untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, maka Pemerintah Daerah harus mendorong percepatan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan yang mendukung peningkatan pendidikan di masyarakat. Hal ini bertujuan agar setiap masyarakat memperoleh kesempatan dan peluang yang sama dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pendidikan Kabupaten Sumba  Timur diarahkan pada perluasan akses, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Hal tersebut diketahui melalui indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur perluasan akses, pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Angka Harapan Lama Sekolah Dan Rata-Rata Lama Sekolah

Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang.

Angka HLS menunjukkan peluang anak usia 7 tahun ke atas untuk mengenyam pendidikan formal pada waktu tertentu. HLS Sumba Timur pada tahun 2020 sebesar 12,83 tahun. Artinya, secara rata-rata anak usia 7 tahun yang masuk jenjang pendidikan formal pada tahun 2020 memiliki peluang untuk bersekolah selama 12,83 tahun atau setara dengan Diploma I.

Rata rata lama sekolah adala rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan yang pernah dijalani. Untuk mereka yang tamat SD diperhitungkan lama sekolah selama 6 tahun, tamat SMP diperhitungkan lama sekolah selama 9 tahun, tamat SM diperhitungkan lama sekolah selama 12 tahun tanpa memperhitungkan apakah pernah tinggal kelas atau tidak.

Rata-rata lama Sekolah digunakan untuk melihat kualitas penduduk di wilayah tertentu dari sisi rata-rata jumlah tahun efektif untuk bersekolah yang dicapai penduduk. Jumlah tahun efektif adalah jumlah tahun standar yang harus dijalani oleh seseorang untuk menamatkan suatu jenjang pendidikan dan untuk perencanaan dan evaluasi capaian program wajib belajar.

Rata-rata lama sekolah menggambarkan tingkat pencapaian setiap penduduk dalam kegiatan bersekolah. Semakin tinggi angka lamanya bersekolah semakin tinggi jenjang pendidikan yang telah dicapai penduduk, sehingga indikator ini sangat penting karena dapat menunjukkan kualitas sumber daya manusia.

Angka Harapan Lama Sekolah Dan Rata-Rata Lama Sekolah di Kabupaten Sumba Timur Tahun 2015– 2020

No

Uraian

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.

Angka Harapan Lama Sekolah

12,04

12,3

12,79

12,8

12,81

12,83

2.

Rata2 Lama Sekolah

6,31

6,48

6,73

6,74

7,54

7,64

3.

Angka Harapan Lama Sekolah NTT

12,84

12,97

13,07

13,10

13,15

13,18

4.

Rata2 Lama Sekolah NTT

6,93

7,02

7,15

7,30

7,98

7,63

Angka Parisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Kasar merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang masih bersekolah di jenjang pendidikan tertentu (tanpa memandang usia penduduk tersebut) dengan jumlah penduduk yang memenuhi syarat resmi penduduk usia sekolah di jenjang pendidikan yang sama. Sejak tahun 2007, Pendidikan Non Formal (Paket A, Paket B, dan Paket C) turut diperhitungkan. APK digunakan untuk menunjukkan berapa besar umumnya tingkat partisipasi penduduk pada suatu tingkat pendidikan dan untuk menunjukkan berapa besar kapasitas sistem pendidikan dapat menampung siswa dari kelompok usia sekolah tertentu serta sebagai indikator pelengkap dari indikator Angka Partisipasi Murni (APM), sehingga dapat ditunjukkan besarnya penduduk yang bersekolah pada suatu jenjang namun usianya belum mencukupi atau bahkan melebihi dari usia sekolah yang seharusnya.

Nilai APK bisa lebih dari 100 persen karena populasi murid yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu mencakup anak di luar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan tersebut. Penyebabnya adalah adanya pendaftaran siswa usia dini, pendaftaran siswa yang telat bersekolah, atau pengulangan kelas. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa wilayah tersebut mampu menampung penduduk usia sekolah lebih dari target yang sesungguhnya. APK yang tinggi menunjukkan tingginya tingkat partisipasi sekolah, tanpa memperhatikan ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya.

APM adalah Proporsi dari penduduk kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah tepat di jenjang pendidikan yang seharusnya (sesuai antara umur penduduk dengan ketentuan usia bersekolah di jenjang tersebut) terhadap penduduk kelompok usia sekolah yang bersesuain. Sejak tahun 2007, Pendidikan Non Formal (Paket A, Paket B, Paket C) turut diperhitungkan. APM digunakan untuk menunjukkan seberapa besar penduduk yang bersekolah tepat waktu, atau menunjukkan seberapa besar penduduk yang bersekolah dengan umur yang sesuai dengan ketentuan kelompok usia sekolah di jenjang pendidikan yang sedang ditempuh.

APK dan APM Jenjang Pendidikan SD s/d SMA/SMK di Kabupaten Sumba Timur Tahun 2015– 2020

No

Usia Penduduk

Jenjang Pendidikan

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.

7-12 Thn

APK SD/MI

117,86

119,67

113,75

113,22

109,79

109,89

2.

13–15 Thn

APK SMP/MTs

91,04

92,49

91,41

92,53

89,09

89,24

3.

16– 18 Thn

APK SMA/MA/SMK

81,91

84,27

75,92

64,27

76,06

78,94

4.

7-12 Thn

APM SD/MI

96,54

97,21

94,40

95,48

96,26

96,23

5.

13–15 Thn

APM SMP/MTs

60,71

60,78

68,72

69,42

69,46

70,16

6.

16– 18 Thn

APMSMA/MA/SMK

55,63

73,57

54,95

50,47

51,46

51,39

Rasio Siswa Per Guru

Rasio guru-siswa didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu. Rasio Siswa Per Guru digunakan untuk menggambarkan beban kerja guru dalam mengajar dan melihat mutu pengajaran di kelas. Semakin tinggi nilai rasio ini berarti semakin berkurang tingkat pengawasan dan perhatian guru terhadap murid sehingga mutu pengajaran cenderung semakin rendah.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, rasio guru-siswa yang ideal bagi Indonesia adalah 1:29 untuk jenjang pendidikan SD, 1:24 untuk SMP, dan 1:20 untuk SMA.

No

Kecamatan

SD

SMP

Jumlah Guru

Jumlah Siswa

Rasio Siswa/ Guru

Jumlah Guru

Jumlah Siswa

Rasio Siswa/ Guru

1

Kec. Haharu

67

844

12,60

21

427

20,33

2

Kec. Kahaungu Eti

88

1.479

16,81

25

455

18,20

3

Kec. Kambata Mapambuhang

66

595

9,02

21

271

12,90

4

Kec. Kambera

286

4.229

14,79

142

2.544

17,92

5

Kec. Kanatang

98

1.074

10,96

31

481

15,52

6

Kec. Karera

60

1.144

19,07

28

638

22,79

7

Kec. Katala Hamu Lingu

35

663

18,94

9

182

20,22

8

Kec. Kota Waingapu

266

4.172

15,68

150

2.841

18,94

9

Kec. Lewa

131

2.163

16,51

77

1.255

16,30

10

Kec. Lewa Tidahu

86

1.050

12,21

37

572

15,46

11

Kec. Mahu

41

867

21,15

17

350

20,59

12

Kec. Matawai La Pawu

82

1.042

12,71

21

420

20,00

13

Kec. Ngadu Ngala

70

825

11,79

12

289

24,08

14

Kec. Nggaha Ori Angu

108

1.359

12,58

32

633

19,78

15

Kec. Paberiwai

62

1.228

19,81

19

347

18,26

16

Kec. Pahunga Lodu

112

1.868

16,68

50

1.020

20,40

17

Kec. Pandawai

184

2.498

13,58

77

1.342

17,43

18

Kec. Pinu Pahar

73

1.139

15,60

35

505

14,43

19

Kec. Rindi

88

1.755

19,94

34

548

16,12

20

Kec. Tabundung

103

1.422

13,81

19

379

19,95

21

Kec. Umalulu

138

2.511

18,20

55

1.376

25,02

22

Kec. Wulla Waijelu

89

1.229

13,81

20

565

28,25

TOTAL

2.333

35.156

15,07

932

17.440

18,71