© SUMBA TIMUR DALAM ANGKA

Gallery Foto
  • Bimtek TIK 2017_1Baru
  • Bimtek TIK 2017_2Baru
  • Bimtek TIK 2017_1Baru
  • Stuba di Pemkot Surabaya_1
  • Stuba di Pemkot Surabaya_2
  • Stuba di Pemkot Surabaya_3
  • Stuba di Pemkot Surabaya_4
  • Stuba di Pemkot Surabaya_5
  • Bimtek TIK Bagian PDE 2015_3
1 2 3 4
Login Form



Pertanian

PERTANIAN

Pembangunan sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan, serta pertambangan dan energi  di Kabupaten Sumba Timur merupakan sector yang memegang peranan penting dalam struktur perekonomian di Kabupaten Sumba Timur.
Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling vital, oleh karena itu kecukupan pangan bagi kebutuhan penduduk harus senantiasa tersedia terkait dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga mengakibatkan semakin tingginya permintaan akan bahan makanan. Jenis tanaman pangan yang di usahakan di Sumba Timur adalah padi, jagung, kedelai, singkong dan hasil umbi-umbian.

Selengkapnya...

 

Perkebunan

PERKEBUNAN

Sub sektor perkebunan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja, karena hasil sub sector ini merupakan salah satu sumbangan kekayaan alami yang dapat di perbaharui. Hasil sub sector ini juga sebagai bahan baku untuk bahan industri pengolahan dan dapat berperan sebagai pelestarian lingkungan hidup. Di Sumba Timur kegiatan sub sector perkebunan yang meliputi perkebunan besar dan perkebunan rakyat, terhitung sampai akhir 2012 masih kecil kontribusinya terhadap sector pertanian. Walaupun demikian hasil dari sub sector ini di harapkan dapat menunjang pendapatan asli daerah Kabupaten Sumba Timur.


Perkembangan produksi komoditi- komoditi perkebunan di Kabupaten Sumba timur yaitu Kopi dengan Luas areal pada tahun 2013 meningkat menjadi 1.201 Ha dari tahun 2012 yang hanya seluas 960 Ha, dengan jumlah produksi yang ikut meningkat sebesar 147 Ton dari tahun sebelumnya. Luas areal kakao juga mengalami peningkatan dari 344 Ha ditahun 2012 meningkat menjadi 671 Ha ditahun 2013 dengan peningkatan jumlah produksi sebesar 11 Ton dari 2,36 Ton di tahun 2012. Luas areal tembakau dari 66,50 Ha ditahun 2012 meningkat menjadi 70 Ha ditahun 2013, akan tetapi jumlah produksinya mengalami penurunan dari 14,35 Ton ditahun 2012 menurun menjadi 5 Ton ditahun 2013. Demikianpun halnya dengan kelapa dalam yang mengalami peningkatan luas areal tetapi menurun jumlah produksinya yaitu luas areal sebesar 5.590 ha ditahun 2012 meningkat menjadi 6.634 ha ditahun 2013, dan mengalami penurunan produksi dari 2.184,58 Ton ditahun 2012 menurun menjadi 2.075 Ton ditahun 2013. Luas areal cengkeh tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 138 Ha tetapi mengalami penurunan jumlah produksi dari 7,28 Ton ditahun 2012 menurun menjadi 3 Ton ditahun 2013. Untuk jambu mete, luas arealnya juga mengalami peningkatan dari 8.738,29 Ha ditahun 2012 meningkat menjadi 10.535 ha ditahun 2013 dengan peningkatan jumlah produksi sebesar 2.369 ton.

 

Kehutanan

 

Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dari sisi ekonomi maupun ekologis. Kontribusi sub sector kehutanan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Sumba Timur masih tergolong kecil bila di bandingkan dengan sub sector lainnya pada sector pertanian. Walaupun demikian, mengingat pentingnya keseimbangan ekologis, maka pengembangan dan pemeliharaan konservasi sumber daya alam dan lingkungan merupakan hal yang tak terhindarkan untuk dikembangkan mengingat saat ini isu pemanasan global dan isu lingkungan tidak saja menjadi isu nasional tetapi menjadi isu internasional. Di samping itu, kondisi lingkungan alam Sumba Timur membutuhkan penanganan yang bersifat segera mengingat saat ini cenderung menurunnya degradasi lingkungan. Jumlah Lahan Hutan  di Kabupaten Sumba Timur terdiri atas, Hutan Produksi tetap yang menurun luasnya menjadi 20.929,59 Ha dari luas tahun sebelumnya. Hutan Produksi terbatas meningkat luasnya dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 15.231,1 Ha ditahun 2012 menjadi 84.842,94 Ha ditahun 2013. Begitupun halnya dengan hutan yang dapat di konversi, dari 58.422,58 Ha ditahun 2012 meningkat menjadi 65.119,30 Ha ditahun 2013. Realisasi luas lahan reboisasi pada tahun 2013 sesuai dengan yang ditargetkan yaitu 25 Ha. Pembuatan lahan penghijauan baru sebesar 75 Ha ditahun 2013 dengan pemeliharaan sebesar 100 Ha. Untuk Luas Land Use (penggunaan lahan lainnya diluar hutan negara) tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu 1.120 Ha.

Hasil hutan sebagai salah satu alternatif pendapatan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur cenderung menurun, hal ini sesuai dengan potensi hasil hutan yang cenderung terbatas atau karena ketatnya pengawasan hutan. Dari beberapa potensi hasil hutan, hanya beberapa saja yang masih menghasilkan produksi. Pada tahun 2013 ada kayu gergajian dengan jumlah produksi sebesar 29,56 M3, kemudian kemiri isi yang menurun drastis jumlah produksinya yaitu dari 36.160 kg menurun menjadi 6.100 ditahun 2013. Demikianpun halnya dengan asam yang menurun produksinya dari 105.665 kg ditahun 2012 menurun menjadi 4.200 kg di tahun 2013. Hasil hutan lain seperti kutu lak dan delingga juga menghilang yang mengakibatkan berkurangnya salah satu sumber pendapatan masyarakat.

Kebakaran hutan merupakan peristiwa dimana hutan yang digologkan sebagai ekologi alamiah mengalami perubahan bentuk yang disebabkan oleh aktifitas pembakaran secara besar-besaran. Pada dasarnya, peristiwa ini memberi dampak negatif maupun positif. Namun, jika dicermati, dampak negatif kebakaran hutan jauh lebih mendominasi ketimbang dampak positifnya. Luas arel hutan yang terbakar di Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2013 semakin luas hingga mencapai 1.305 Ha dari tahun sebelumnya yang hanya 812 Ha dengan 7 lokasi kebakaran. Disamping itu kasus pencurian kayupun semakin meningkat, dari 3 kasus pada tahun sebelumnya meningkat menjadi 5 kasus di tahun 2013, dengan volume kayu yang dicuri sebesar 12,08 M3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Dinas Kehutanan Kab.Sumba Timur

 

Kelautan Dan Perikanan

Sub Sektor Perikanan juga merupakan sub sector penyedia lapangan kerja dan kesempatan berusaha dalam rangka pemantapan program pengentasan kemiskinan. Untuk itu Pemerintah NTT, khusus Sumba Timur mencanangkan Program Gerakan Masuk Laut (Gemala) yang merupakan implementasi program empat pilar bidang perikanan yang kegiatan utamanya pengembangan usaha budidaya laut, budidaya tambak dan penangkapan yang meliputi peningkatan prasarana perikanan, teknologi pra dan pasca panen, peningkatan kelembagaan perikanan serta memajukan wisata bahari.

 

Selengkapnya...

 

Perternakan

 

Pembangunan Sektor Peternakan pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani peternak dalam rangka meningkatkan populasi maupun produksi ternak dan hasil-hasilnya serta meningkatkan konsumsi potensi hewani di antaranya daging, telur dan susu yang banyak di konsumsi masyarakat dengan tujuan untuk mencukupi permintaan dalam negeri guna menuju swasembada protein. Jenis – jenis ternak yang saat ini di usahakan di Sumba Timur antara lain: Sapi, Kerbau, Kuda ,Kambing/Domba dan Babi. Selain ternak besar masyarakat juga memelihara ternak kecil seperti unggas yaitu Ayam ras, Ayam buras dan itik. Pada Tahun 2013, jumlah populasi ternak sapi potong mengalami penurunan  sebesar 39.503 ekor dari tahun sebelumnya yang mencapai jumlah sebesar 56.276 ekor. Jumlah pemotongan sapi pertahun tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 677 ekor dengan laju pertumbuhan populasi sapi sebesar 15 %.

Selain ternak sapi yang mengalami penurunan populasi, beberapa ternak lainnya juga cenderung mengalami penurunan populasi, diantaranya adalah ternak kambing yang pada tahun 2012 populasinya sebesar 62.907 ekor menurun menjadi 56.167 ekor ditahun 2013, populasi ternak babi ditahun 2012 sebesar 140.071 ekor menurun menjadi 8.263 ekor ditahun 2013, kemudian populasi ternak kerbau ditahun 2012 sebesar 38.147 ekor menurun menjadi 35.648 ekor ditahun 2013, populasi ternak kuda ditahun 2012 sebesar 31.486 ekor menurun menjadi 27.831 ekor ditahun 2013 dan populasi ternak ayam buras ditahun 2012 sebesar 712.625 ekor menurun menjadi 624.751 ekor ditahun 2013. Sementara untuk sarana dan prasarana seperti Rumah Potong Hewan (RPH) ada 3 unit yang menyebar di Kabupaten Sumba Timur.

Sebagaimana diketahui bahwa ternak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Sumba Timur disamping memiliki nilai sosial budaya juga memiliki nilai ekonomis sebagai salah satu sumber pendapatan peternak sekaligus sekaligus sumber pendapatan daerah melalui perdagangan antar pulau. Akan tetapi akhir-akhir ini populasi ternak besar cenderung menurun baik karena perdagangan antar pulau, maupun urusan sosial budaya antar daerah dalam pulau Sumba serta terjadinya kekurangan pakan pada saat musim kemarau akibat degradasi lingkungan.

 

Pertambangan , Energi & Lingkungan Hidup

Pertambangan dan Energi

Pertambangan

Sektor pertambangan memegang peranan yang cukup penting dalam mendukung sektor-sektor lainnya seperti sektor industri. Beberapa kawasan dan kegiatan pertambangan yang ada di Kabupaten Sumba Timur memiliki potensi jenis pertambangan yang hampir sama, dari jenis pertambangan dan penggalian sebagian besar didominasi oleh komoditas bernilai rendah yakni batu karang, sirtu, pasir, batu pecah, batu gelondongan,batu kapur, batu warna, tanah urug, batu gamping, pasir kali, pasir laut untuk kebutuhan konstruksi lokal, dan sebagian kecil menyimpan kekayaan pertambangan lainnya berupa Andesit, Granit, batu setengah permata, Feldspar, Tembaga, Granodiorit, Timah Hitam, Emas. Untuk saat ini baru Tambang Emas yang pernah di eksplorasi.  Peran sektor pertambangan di Kabupaten Sumba Timur masih belum menonjol hal ini terjadi karena data potensi hasil tambang masih terbatas. Hasil tambang masih terbatas pada hasil tambang galian golongan C yang penyebarannya cukup merata di wilayah Kabupaten Sumba Timur dan dikelola oleh masyarakat melalui pertambangan rakyat dan sedikit kegiatan usaha bahan galian golongan B yang dikelola oleh pengusaha lokal. Penggalian bahan galian golongan C yang dilakukan oleh masyarakat jika tidak terkoordinir secara baik dapat menimbulkan resiko yang cukup besar mengingat keterbatasan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan. Hal ini terbukti dengan begitu menyebarnya usaha pertambangan galian golongan C berupa batu dan pasir sungai/laut tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan keselamatan fasilitas-fasilitas umum yang berada pada daerah aliran sungai seperti jembatan, bendungan, gedung dan sebagainya.

POTENSI BAHAN TAMBANG MINERAL DI KABUPATEN SUMBA TIMUR

Sumber daya mineral sebagai salah satu sumber daya alam, merupakan sumber yang sangat penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Dalam skala global, mineral – khususnya penghasil energi utama; bahkan berperan strategis dalam menentukan peta perpolitikan dunia. Sementara mineral dalam bentuk logam mulia juga memiliki posisi penting dalam perekonomian dunia. Berikut adalah tabel potensi bahan tambang mineral di Kabupaten Sumba Timur dari hasil penelitian tahun 2008.
Untuk mengetahui potensi tersebut selengkapnya dapat di download disini

Energi

Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terus berupaya untuk menggandeng investor agar sumber energi tersebut dapat dimanfaatkan. Upaya tersebut telah berhasil dengan ditandatanganinya kerjasama dengan investor asing tahun 2009 yang difasilitasi oleh PT PLN dan akan membangun energi listrik tenaga matahari dengan kapasitas 3 MW. Sampai dengan tahun 2013 masih terdapat wilayah kecamatan khususnya ibukota kecamatan yang belum terlayani jaringan listrik PLN seperti Kecamatan Pinu Pahar, Kecamatan Mahu, Kecamatan Kambata Mappambuhang. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik pada wilayah tersebut, maka pemerintah Kabupaten Sumba Timur menempuh kebijakan pengembangan Listrik Diesel Masuk Kampung yang dioperasionalkan oleh masyarakat, di samping itu terdapat PLTS.

Potensi alam berupa air terjun, sinar matahari serta tenaga angin sangat potensial untuk dikembangkan sebagai energi terbarukan dan sampai dengan saat ini potensi daerah tersebut diminati oleh investor untuk dikembangkan. Diharapkan pada tahun yang akan datang Sumba Timur bebas dari energi fosil dan memanfaatkan energi baru terbarukan sebagai sumber energi listrik.

Berikut ini adalah data mengenai energi baru terbarukan yang digunakan sebagai sumber listrik di Kabupaten Sumba Timur.

Potensi alam berupa air terjun, sinar matahari serta tenaga angin sangat potensial untuk dikembangkan sebagai energi, akan tetapi sampai dengan saat ini potensi daerah tersebut dikembang. Di harapkan potensi ini akan dikembangkan mengingat Propinsi Nusa Tenggara Timur sudah ditetapkan oleh PLN sebagai daerah bebas listrik tenaga diesel mengingat potensi alam yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai energi listrik.

Berikut ini adalah data tentang banyaknya energi yang Dibangkitkan oleh PLN dan Penggunaannya Tahun 2010 – 2013.

Total jumlah pelanggan listrik pada tahun 2012 sebanyak sebanyak 19.191 Pelanggan, meningkat di bandingkan pada tahun 2011 sebanyak 15.966 pelanggan. Jumlah pelanggan listrik terbanyak adalah di Kecamatan Kota Waingapu dengan jumlah pelanggan 13.789 pelanggan, diikuti oleh Kecamatan Umalulu sebanyak  1.530 pelanggan dan Kecamatan Lewa sebanyak 929 pelanggan. Untuk jumlah pelanggan listrik terendah terdapat di kecamatan Paberiwai dengan jumlah pelanggan sebanyak 88 pelanggan dan tidak mempunyai pelanggan listrik terdapat di Kecamatan Lewa Tidahu dan Katala Hamu Lingu. Pada akhir Desember tahun 2013, tercatat hampir sebagian besar masyarakat pelanggan listrik di Kabupaten Sumba Timur telah memanfaatkan listrik prabayar. Berikut adalah data mengenai jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2008 - 2012.

Lingkungan Hidup

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dalam hal pemeliharaan lingkungan hidup, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terus meningkatkan perlindungan lingkungan terhadap produksi  sampah/timbunan sampah yang ada. Produksi sampah/timbunan sampah yang paling banyak terdapat di Kecamatan Kota Waingapu dan kecamatan Kambera yang berupa sampah organik dan non organik dengan timbunan sampah 120 m3 perhari dan yang diangkut ke tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebanyak 40 m3 perhari. Dari data tersebut menunjukan bahwa timbunan sampah yang tidak terangkut setiap hari sebanyak 80 m3, keadaan ini perlu dicarikan solusi penyelesaiannya mengingat tidak adanya perimbangan antara produksi sampah per hari dengan kemampuan angkut. Sejak tahun 2012 telah dibangun TPA di Laindeha dengan dana APBN sebagai pusat penanganan sampah di Kawasan Perkotaan Kota Waingapu dan sekitarnya. Untuk menjawab model pengelolaan sampah tersebut, perlu dipikirkan adanya UPTD sehingga model pengelolaannya lebih efisien dan efektif.

Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dalam pengembangan ke depan perlu pengelolaan sampah yang lebih baik, terutama pengelolaan TPA agar lebih efisien, efektif, da berwawasan lingkungan. Dari aspek lingkungan, yang perlu mendapat perhatian adalah masalah bau dan pencemaran. Berkaitan dengan kondisi lingkungan pemukiman, sampai saat ini cakupan layanan sanitasi di Sumba Timur baru mencapai 14 % dan masih jauh dari target, sementara Mdgis telah menargetkan bahwa tahun 2015 cakupan layanan air bersih maupun sanitasi harus mencapai 80 % untuk perkotaan dan 60 % untuk perdesaan.


Adanya gerakan Waingapu menuju Hijau dan Bersih atau Waingapu Go Green and Clean (WGC) mulai mengubah wajah Kota Waingapu secara umum. Penumpukan sampah sudah jarang ditemukan dengan adanya partisipasi dari masyarakat. Partisipasi masyarakat ditandai dengan adanya Aksi Jumat Bersih dan peletakan sampah pada karung di depan rumah yang kemudian diangkut oleh operator sepeda motor sampah Kelurahan untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Hal ini tentunya akan mengurangi tugas pemerintah sekaligus memberikan pemahaman bahwa penanganan masalah persampahan bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi sudah menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat penghuni kota Waingapu dan sekitarnya. Tentunya diharapkan agar gerakan Waingapu Go Green and Clean (WGC) akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya agar Kota Waingapu menjadi wilayah yang hijau dan bebas dari sampah serta menjadi teladan bagi kota-kota lainnya di Provinsi NTT.

Tata Ruang dan Pertanahan

Tata Ruang

Rencana Tata Ruang Wilayah adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang wilayah Nasional, ruang wilayah Propinsi dan ruang wilayah Kabupaten, yang mencakup kawasan-kawasan perkotaan, kawasan perdesaan dan kawasan strategis.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumba Timur telah disusun pada tahun 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2010. Implementasi RTRW dapat ditujukan melalui komitmen dalam penyusunan dokumen-dokumen perencanaan daerah lainnya, kajian pemberian rekomendasi pengendalian dan pemanfaatan ruang, penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi seperti pemanfaatan ruang oleh PT. Ade Agro Industri, PT. Sinar Fajar dan penataan ruang kawasan pariwisata Pindu Hurani, Bangga Watu dan Praibakul. Untuk menjamin ketaatan RTRW, RDRTK Kawasan Perkotaan Kota Waingapu, Rencana Induk Kebakaran/RTBL, Rencana Strategis Penataan Ruang dan Penataan Bagian Wilayah Perkotaan maupun Master Plan Agropolitan dan Perencanaan Teknis Tata Ruang lainnya pada beberapa SKPD sangat diharapkan supaya semua program/kegiatan harus duduk dan mengacu pada tata ruang yang ada dengan arah pemanfaatan ruang sesuai peruntukannya yang telah ditetapkan dalam Perda RTRW Kabupaten Sumba Timur Nomor 12 Tahun 2010.

Berdasarkan hasil analisis tentang struktur ruang wilayah, Kabupaten Sumba Timur terbagi menjadi beberapa tingkatan orde perkotaan. Tingkat orde perkotaan tersebut terbentuk oleh perkembangan dan pertumbuhan perkotaan itu sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : kondisi fisiografis wilayah, kependukan, kelengkapan fasilitas, kelengkapan infrastruktur wilayah, interaksi social ekonomi antar kawasan dan aksesbilitas.

Seiring perkembangan wilayah perkotaan di Kabupaten Sumba Timur, berdasarkan kajian perkotaannya pada saat sekarang maka yang akan datang direncanakan dengan mengacu pada tata ruang yang ada

Untuk mendukung terbentuknya struktur ruang yang ideal dalam mendukung perkembangan di wilayah Kabupaten Sumba Timur maka diwujudkan dengan penentuan pusat-pusat pengembangan dan wilayah pendukungnya berdasarkan orde/hierarkinya. Dalam lingkup wilayah kabupaten terdiri atas kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan, maka perlu dikembangkan juga di kawasan perdesaan pada setiap kecamatan, sebagai upaya untuk mempercepat perkembangan wilayah perdesaan. Salah satu bentuk pengembangan wilayah perdesaan dapat di tempuh dengan penentuan desa-desa pusat pertumbuhan.

Sistem perkotaan secara umum terdiri atas PKN (Pusat Kegiatan Nasional), PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), dan PKL (Pusat Kegiatan Lokal). Berdasarkan kriteria di atas maka sistem perkotaan di Kabupaten Sumba Timur dikaitkan dengan rencana tata ruang wilayah nasional : Waingapu ditetapkan dalam lingkup PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), sehingga perkotaan yang berfungsi sebagai pusat Sistem Perwilayahan termasuk PKL-1 (primer), meliputi: Lewa, Karera, Haharu, dan Umalulu, kemudian perkotaan yang berfungsi sebagai wilayah pendukung termasuk PKL-2 (sekunder). berdasarkan kecenderungan perkembangan kegiatan ekonomi dan investasi yang ada diproyeksikan bahwa ada pergeseran dalam sistem perkotaan di Kabupaten Sumba Timur yaitu : Kecamatan Kota Waingapu diprediksikan menjadi PKN. Dengan sistem perwilayahan tersebut, perhatian terhadap Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada lokasi Mondu menjadi salah satu alternatif terciptanya sumber daya alam yang mendukung pembangunan pada berbagai sektor.

Sesuai dengan penetapan orde perkotaan/hierarki perkotaan untuk wilayah Kabupaten Sumba Timur, serta konsep dan strategi pengembangan wilayah pada bab sebelumnya, maka sistem perkotaan di Kabupaten Sumba Timur direncanakan menjadi   5 Sistem Perwilayahan yaitu : Sitem Perwilayahan Waingapu, Sistem Perwilayahan Lewa, Sistem Perwilayahan Karera, Sistem Perwilayahan Haharu, dan Sistem Perwilayahan Umalulu.

Pertanahan

Berdasarkan data yang di peroleh dari Kantor Pertanahan Kabupaten Sumba Timur,  Pada tahun 2013, Jumlah tanah yang bersertifikat hak milik sebanyak 1.546 buah, Hak Guna Usaha sebanyak 2 buah, Hak Pakai sebesar 46 Buah, sedangkan untuk untuk luas tanah yang bersertifikat  hak milik sebesar 907 Ha, Hak Guna Usaha sebesar 4.058 Ha dan hak pakai sebesar 49 Ha.