Login Form
Home Tentang Sumba Timur Kondisi Umum Perekonomian

Perekonomian

Gambaran umum Perekonomian daerah Kabupaten Sumba Timur antara lain dapat dilihat dari kependudukan, perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan hasil olahan data PDRB,  baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan, konsumsi / pengeluaran penduduk, harga dan indeks harga, perkembangan sektor-sektor produksi dan tersier. Penduduk merupakan sumberdaya manusia yang potensial dalam upaya pengembangan potensi perekonomian suatu wilayah. Potensi penduduk dapat diamati dari segi jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut umur, tingkat partisipasi penduduk terhadap kegiatan ekonomi, tingkat pengangguran, ratio beban ketergantungan serta beberapa faktor lainnya yang merupakan indikator-indikator pengembangan suatu wilayah. Registrasi penduduk Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2007 tercatat sebesar 215.293 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 31 jiwa per Km2  dan pada tahun 2006 tercatat sebanyak 209.970 jiwa yang mendiami wilayah seluas 7000,5 Km2 dengan rata-rata kepadatan penduduk sekitar 30 orang per km2. Berdasarkan hasil olahan data tahun 2006, terdapat prosentase penduduk produktif yang berusia 15 – 64 tahun sebanyak 59,16 % dan tidak produktif sebanyak 36,33 % usia 0 – 14 tahun dan 4,51 % usia 65 tahun ke atas dengan ratio beban ketergantungan (depedency ratio) dari jumlah penduduk usia non produktif terhadap jumlah penduduk usia produktif, yakni sebesar 69 % yang berarti setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung sekitar 69 orang penduduk non produktif. Angkatan kerja di Sumba Timur pada tahun 2006 tercatat sebanyak 110.943 orang atau sebesar 80,07 % dari penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) dan tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar  80,07 %  dengan  lapangan  kerja  yang  banyak menyerap pekerjaan adalah  pada sektor primer yakni yang bekerja pada sektor pertanian sebesar 72,44 % diikuti sektor tertier sebesar 16,41 % dan sektor sekunder sebesar 11,15 %. Perkembangan pertumbuhan PDRB Sumba Timur atas dasar harga berlaku dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2006 cenderung berfluktuatif. Dapat dikatakan statistik PDRB Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu alat yang cukup handal untuk perencanaan dan evaluasi hasil pembangunan secara makro yang sangat membantu dalam menentukan sasaran pembangunan yang lebih tepat, dimana dengan data PDRB tersebut dapat memberikan gambaran tentang potensi dan kemakmuran daerah yakni dengan melihat struktur pendapatan daerah dan besarnya pendapatan perkapita, kemampuan daya beli masyarakat dengan melihat besarnya tingkat inflasi dan deflasi, dan laju pertumbuhan perekonomian baik secara menyeluruh maupun sektoral. Pada Tahun 2001 percepatan pertumbuhannya sebesar 12,76 % dengan PDRB sebesar 508.444 milyard rupiah turun menjadi 11,49 %  dengan PDRB sebesar 566.864 milyard rupiah pada Tahun 2002 dan 8,49 % pada Tahun 2003 dengan PDRB sebesar 614.999 milyard rupiah dan kembali mengalami kenaikan pada Tahun 2004 menjadi 9,42 % dengan PDRB sebesar 672.951 milyard rupiah dan pada Tahun 2005 naik lagi menjadi 10,35 % dengan PDRB sebesar 742.612 milyard rupiah dan pada Tahun 2006 kenaikannya menurun menjadi 8,84 % dengan PDRB sebesar 808.271 milyard rupiah. Dari perhitungan PDRB atas dasar harga konstan terlihat pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten Sumba Timur sampai dengan Tahun 2006 menunjukan pertumbuhan yang positif, yaitu dari 4,08 % pada Tahun 2002 naik menjadi 4,35 % pada Tahun 2003 dan pada Tahun 2004 meningkat lagi menjadi 5,06 %. Untuk Tahun 2005 sedikit melambat menjadi 4,81 % dan kembali mengalami kenaikan pada Tahun 2006 menjadi sebesar 5,49 %.

Melihat kontribusi sektor per sektor, secara keseluruhan perekonomian Kabupaten Sumba Timur menurut harga berlaku masih didominasi oleh peran sektor pertanian dengan kostribusi berkisar antara 44,70 persen - 40,65 persen (Tahun 2002-2005) dan pada Tahun 2006 sebesar Rp.311.499.575.000,- atau 38,45 % sedangkan atas dasar harga konstan berkisar antara 41,55 persen – 43,85 persen (Tahun 2002-2005) terhadap total PDRB dan pada Tahun 2006 sebesar Rp.223.882.628.000,-. Namun apabila dilihat dari data empat tahun terakhir besarnya prosentase sektor pertanian mengalami penurunan. Penurunan prosentase yang dialami sektor pertanian telah membawa dampak pergeseran terhadap kontribusi sektor non pertanian, dimana sektor-sektor non pertanian seperti perdagangan, hotel dan restoran mengalami kenaikan, Tahun 2005 sebesar 17,07 % naik menjadi 18,41 % pada Tahun 2006 begitu juga dengan sektor industri keuangan persewaan dan jasa perusahaan dari 3,69 % pada Tahun 2005 naik menjadi 3,89 % pada Tahun 2006 serta sektor jasa-jasa dari 19,06 % pada Tahun 2005 naik menjadi 19,53 % pada Tahun 2006, demikian juga dengan sektor bangunan konstruksi dari 9,87 % pada Tahun 2005 naik menjadi 10,06 % pada Tahun 2006.

Kenaikan kontribusi keempat sektor tersebut (bangunan/konstruksi, perdagangan, bank dan lembaga keuangan lainnya, dan jasa-jasa) juga membawa dampak penurunan terhadap sektor non pertanian lainnya seperti sektor pengangkutan, komunikasi, pertambangan dan penggalian.

Pendapatan perkapita penduduk Sumba Timur atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan walaupun pergerakan pertumbuhannya melambat dan berfluktuasi setiap tahunnya. Tahun 2004 tercatat sebesar Rp.3.003.039 naik menjadi Rp.3.293.044,- pada Tahun 2005 dengan pertumbuhan sebesar 9,66 % dan berada diatas rata-rata pendapatan perkapita Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebesar Rp.3.244.796,- dan pada Tahun 2006 mengalami kenaikan menjadi Rp.3.542.685,- dengan pertumbuhan sebesar 7,58 %. Kenaikan nilai pendapatan perkapita merupakan hal yang cukup menggembirakan, namun dilain pihak kita masih diperhadapkan dengan persoalan – persoalan kemiskinan terutama bagi mereka yang bekerja pada sektor informal lainnya.

Pengeluaran perkapita penduduk Kabupaten Sumba Timur dilihat dari prosentase pola pengeluaran masih menunjukan pengeluaran untuk makanan masih lebih besar bila dibandingkan dengan pola pengeluaran untuk bukan makanan. Tahun 2004 tercatat pengeluaran untuk makanan sebesar 72,45 % dan bukan makanan sebesar 27,55 %, tahun 2005 naik menjadi 68,18 % untuk konsumsi makanan dan untuk konsumsi bukan makanan naik menjadi 31,82 % dan pada tahun 2006 naik menjadi 69,92 % untuk konsumsi makanan dan bukan makanan mengalami penurunan menjadi sebesar 30,08 % dengan rata-rata pengeluaran perkapita sebesar Rp.170.752,-.  Hal ini dimungkinkan karena meningkatnya harga pasaran barang-barang bukan makanan dan adanya pola konsumsi masyarakat yang sedikit bergeser.

Salah satu indikator penting untuk melihat keadaan ekonomi suatu wilayah selain indikator-indikator tersebut diatas juga dapat dilihat dengan keadaan harga, indeks harga dan laju inflasi, dimana indikator-indikator tersebut pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk menyusun berbagai kebijakan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan penduduk.

Dari tabel diatas terlihat rata-rata indkes umum harga konsumen tahun 2005 sebesar 367,56 naik menjadi 400,80 pada tahun 2006. Keadaan ini menunjukan bahwa harga di Kota Waingapu bervariasi setiap bulan karena dipengaruhi oleh biaya pengangkutan dari produsen ke setiap pasar maupun karena faktor musim yang sangat berpengaruh terhadap beberapa jenis komoditi.

Inflasi umum Kota Waingapu sangat berfluktuasi dari bulan ke bulan. Hal ini dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan faktor musim untuk beberapa komoditi pertanian. Inflasi terbesar terjadi pada Januari sebesar 2,52 % yang dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM yang telah memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.

 


Jl. Jend. Soeharto No.42
Waingapu, Sumba Timur
NTT 87112
Telp. 0387-62785

Facebook Box