Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dari sisi ekonomi maupun ekologis. Kontribusi sub sector kehutanan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Sumba Timur masih tergolong kecil bila di bandingkan dengan sub sector lainnya pada sector pertanian. Walaupun demikian, mengingat pentingnya keseimbangan ekologis, maka pengembangan dan pemeliharaan konservasi sumber daya alam dan lingkungan merupakan hal yang tak terhindarkan untuk dikembangkan mengingat saat ini isu pemanasan global dan isu lingkungan tidak saja menjadi isu nasional tetapi menjadi isu internasional. Di samping itu, kondisi lingkungan alam Sumba Timur membutuhkan penanganan yang bersifat segera mengingat saat ini cenderung menurunnya degradasi lingkungan. Jumlah Lahan Hutan  di Kabupaten Sumba Timur terdiri atas, Hutan Produksi tetap yang menurun luasnya menjadi 20.929,59 Ha dari luas tahun sebelumnya. Hutan Produksi terbatas meningkat luasnya dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 15.231,1 Ha ditahun 2012 menjadi 84.842,94 Ha ditahun 2013. Begitupun halnya dengan hutan yang dapat di konversi, dari 58.422,58 Ha ditahun 2012 meningkat menjadi 65.119,30 Ha ditahun 2013. Realisasi luas lahan reboisasi pada tahun 2013 sesuai dengan yang ditargetkan yaitu 25 Ha. Pembuatan lahan penghijauan baru sebesar 75 Ha ditahun 2013 dengan pemeliharaan sebesar 100 Ha. Untuk Luas Land Use (penggunaan lahan lainnya diluar hutan negara) tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya yaitu 1.120 Ha.

Hasil hutan sebagai salah satu alternatif pendapatan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur cenderung menurun, hal ini sesuai dengan potensi hasil hutan yang cenderung terbatas atau karena ketatnya pengawasan hutan. Dari beberapa potensi hasil hutan, hanya beberapa saja yang masih menghasilkan produksi. Pada tahun 2013 ada kayu gergajian dengan jumlah produksi sebesar 29,56 M3, kemudian kemiri isi yang menurun drastis jumlah produksinya yaitu dari 36.160 kg menurun menjadi 6.100 ditahun 2013. Demikianpun halnya dengan asam yang menurun produksinya dari 105.665 kg ditahun 2012 menurun menjadi 4.200 kg di tahun 2013. Hasil hutan lain seperti kutu lak dan delingga juga menghilang yang mengakibatkan berkurangnya salah satu sumber pendapatan masyarakat.

Kebakaran hutan merupakan peristiwa dimana hutan yang digologkan sebagai ekologi alamiah mengalami perubahan bentuk yang disebabkan oleh aktifitas pembakaran secara besar-besaran. Pada dasarnya, peristiwa ini memberi dampak negatif maupun positif. Namun, jika dicermati, dampak negatif kebakaran hutan jauh lebih mendominasi ketimbang dampak positifnya. Luas arel hutan yang terbakar di Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2013 semakin luas hingga mencapai 1.305 Ha dari tahun sebelumnya yang hanya 812 Ha dengan 7 lokasi kebakaran. Disamping itu kasus pencurian kayupun semakin meningkat, dari 3 kasus pada tahun sebelumnya meningkat menjadi 5 kasus di tahun 2013, dengan volume kayu yang dicuri sebesar 12,08 M3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Dinas Kehutanan Kab.Sumba Timur