Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa kebijakan dan strategi Kelautan dan Perikanan melalui industrialisasi kelautan dan perikanan tujuannya untuk meningkatkan produktivitas,

nilai tambah produk dan daya saing, hal ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan. Hal tersebut disampaikan ketika memberikan sambutan  peresmian pabrik pengolah rumput laut PT Algae Sumba Timur Lestari (PT ASTIL) yang terletak di desa Tanamanang, Kec. Pahunga Lodu, Kab. Sumba Timur pada tanggal 11 Juli 2013 yang dihadiri selain Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, MSi juga oleh Asisten ekonomi dan Pembangunan Setda Prov. NTT yang mewakili Gubernur NTT, bupati dan wakil bupati sedaratan Sumba, Ketua DPRD Sumba Timur, drh. Palulu P. Ndima, M.Si dan tamu undangan lainnya.

Dikatakan pula oleh Bapak Dirjen bahwa keberadaan pabrik rumput laut sangat penting untuk menampung hasil rumput laut dari para pembudidaya disekitar Kabupaten Sumba Timur maupun NTT pada umumnya. Selain itu dikatakan bahwa dengan ditetapkannya Kab. Sumba Timur sebagai kawasan minapolitan percontohan pada tahun 2011 diharapkan dapat mendorong pembangunan di Sumba Timur, hal ini terbukti dengan pembangunan pabrik rumput laut secara terintegrasi dimana mesin pengolah rumput laut menjadi chip dibangun oleh Kementerian Perindustrian, gedung dan ruang prosesingnya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta modal kerja berasal dari Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Ditambahkan juga oleh Dirjen bahwa rumput laut merupakan komoditas yang tepat karena menyerap banyak tenaga kerja dengan modal kerja yang tidak besar, apalagi saat ini permintaan rumput laut dunia meningkat.

Sebelum itu Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, MSi, dalam kesempatan tersebut melaporkan perkembangan dari pabrik rumput laut  PT. Algae Sumba Timur Lestari (PT ASTIL) sejak pengembangan awal pada tahun 2006 hingga saat ini, selain itu pula disampaikan berbagai potensi dibidang kelautan dan perikanan diantaranya potensi areal pengembangan rumput laut seluas 5.800 ha. dan yang diusahakan baru sekitar 10 %.  Saat ini kapasitas terpasang pabrik adalah sebesar 6 ton bahan baku per hari dan kedepan direncanakan menjadi 10 ton per hari yang pemasaran produk chipsnya baru untuk dalam negeri saja. Adapun kendala yang dialami adalah peralatan penunjang produksi yaitu tangki perendaman dan mesin chips. Untuk itu diharapkan adanya komitmen bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam hal pengembangan kegiatan pabrik rumput laut kiranya dapat berjalan dengan baik. Bupati juga mengharapkan kerjasa dengan beberapa Kabupaten di NTT dalam hal penyediaan bahan baku.

Turut menyampaikan sambutan Gubernur NTT yang diwakili oleh asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Prov. NTT yang menyatakan bahwa pengembangan rumput laut di NTT cukup berkembang, maka pemerintah Provinsi NTT bertekad menjadikan rumput laut sebagai komoditi unggulan sebagai implementasi dari program kelautan dan perikanan. Melihat trend pertumbuhan rumput laut yang terus meningkat karena antusias masyarakat terhadap budidaya rumput laut cukup tinggi terbukti tidak terpengaruh dengan dampak krisis ekonomi global dan memberikan peningkatan penghasilan masyarakat yang cukup cepat. Namun budidaya rumput laut belum optimal dan masih banyak yang harus dibenahi terutama pada produktivitas dan mutu rumput laut serta SDM yang profesional sebagai tenaga pendamping karena akan berpengaruh pada mutu produk yang dihasilkan.    Pemda NTT terus memberikan perhatian yang besar  terhadap stabilitas keamanan investasi  dan masyarakat hal ini diwujudkan melalui kerjasama dengan kepolisian NTT.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemecahan kendi oleh Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Slamet Soebjakto yang disaksikan oleh hadirin yang dilanjutkan dengan peninjauan ke lokasi pabrik.